Seperti apa rupa Virus Writer dan Hacker?
February 26, 2008
Jika kita ditanya, kira-kira seperti apa ya rupa para hacker dan virus writer menciptakan virus dan menyebarkannya ke komputer kita? yang membuat kita merana, sengsara, nelangsa karena kehilangan data? kebanyakan dari kita akan membayangkan seorang cupu, gak populer, kacamata tebel, superpinter, nerd, dan senang menghasbiskan seluruh waktunya di depan komputer.
Namun ternyata menurut Sarah Gordon, ahli virus dan teknologi keamanan komputer, stereotip seperti itu tidaklah sepenuhnya benar. Sejak tahun 1992, Gordon telah mempelajari psikologi para virus writer. “A hacker or a virus writer is just as likely to be the guy next door to you,” katanya. “or the kid at the checkout line bagging your groceries. Your average hacker is not necessarily some Goth type dressed entirely in black and sporting a nose ring: she may very well be a 50-year-old female.”
Gordon banyak mengenal para virus writer dengan latar belakang yang berbeda-beda. Mereka tidak hanya orang yang berasal dari golongan akademis terpelajar, tetapi juga dari kalangan olahragawan yang bertubuh atletis. Ada yang bekerja sebagai petugas perpustakaan, pemusik, seniman, bahkan teknisi listrik. Sebagian besar juga memiliki hubungan yang baik dengan lingkungan sosial mereka: memiliki pacar, memiliki ikatan yang kuat dengan keluarga, dan bahkan menjadi idola dalam pergaulannya. Mereka, tidak seperti yang kita bayangkan, tidak menghabiskan seluruh waktunya “mengeram” di depan komputer. Banyak dari mereka yang senang melakukan tugas sosial seperti menjadi sukarelawan.

Yang pasti, tidak secupu orang ini!
Sebagai info, hacker dan virus writer adalah dua komunitas yang sama sekali berbeda. “Hacker lebih memiliki pengetahuan dan keterampilan yang mendalam,” kata Gordon, “sementara sebagian besar virus writer tidak memilikinya.” Hacker memerlukan keterampilan dan pengetahuan yang tinggi dalam bidang IT sehingga banyak orang yang menganggap menjadi hacker itu keren. Sebaliknya, virus writer dipandang rendah karena memang hanya memerlukan sedikit pengetahuan tentang IT dan serangan “karyanya”, yaitu virus, yang bersifat acak (random).
Meskipun kebanyakan hacker dan virus writer memiliki alasan yang sama, yaitu tantangan teknikal (technical challange) yang mereka dapatkan ketika bekerja, keduanya sama sekali berbeda. Hacker lebih kepada keinginan untuk mendapatkan power dan kendali: ketika mereka melakukan pekerjaannya, yaitu meng-hack suatu sistem, mereka akan terus mengontrol dan mengendalikan sistem yang mereka hack itu selama yang mereka inginkan. Sebaliknya, setelah seorang virus writer menciptakan sebuah virus, ia akan melepaskannya dan tidak mengendalikannya, membiarkannya menjadi sampah di dunia maya, membiarkannya merusak ribuan komputer dan mengharapkan ketenaran atas perbuatan gila itu.
Gordon menjelaskan bahwa virus writer membuat virus karena beberapa alasan. Beberapa mengatakan bahwa alasan itu adalah tantangan teknikal (technical challange) dalam membuat virus, meskipun pada kenyataannya, membuat virus sangatlah mudah. Membuat virus, tidak seperti yang kita bayangkan, hanya membutuhkan waktu sekitar satu sampai lima menit, tergantung aplikasi yang digunakan. Dan bagian program yang membuat virus itu bersifat viral, yaitu dapat memperbanyak diri sendiri, dapat dibuat dengan mudah–hanya satu atau dua baris kode yang dibutuhkan untuk membuatnya. Lebih sulit membuat game flash daripada menulis virus.
Motivasi utama dari pembuat virus, terutama yang masih muda, adalah ingin diterima menjadi bagian dari suatu kelompok. Mereka ingin mendapatkan ketenaran di kelompoknya. Seorang pemuda akan merasa sangat senang jika virus “karyanya” telah menyebar ke seluruh dunia dan masuk ke surat kabar atau televisi terkenal semacam CNN. Mereka merasa sudah membuat “perbedaan,” merasa keren, brilian, meskipun pada kenyataannya tidak demikian.
“lebih jauh lagi,” lanjut Gordon, “kebanyakan virus writer tidak mengerti dampak yang diakibatkan oleh virusnya.” Hal ini terjadi karena ketika seseorang “melepaskan” seekor virus, ia tidak akan mengetahui “kabar” dari virus ciptaannya itu. Sebesar apa pengaruh kerusakaannya terhadap kehidupan orang lain, mereka tidak dapat mengetahuinya.
Untungnya, saat ini banyak orang yang telah mengetahui betapa besarnya dampak yang ditimbulkan oleh virus. Media yang dulu sering mengagung-agungkan para virus writer, menganggapnya jenius, kini justru melecehkan para penulis virus itu.
Kesimpulannya, virus writer dan hacker tidaklah se-geek yang dibayangkan orang, dalam kehidupan sehari-hari, mereka terlihat seperti orang kebanyakan. Virus writer dan hacker adalah dua komunitas yang berbeda. Hacker lebih membutuhkan skill dan knowledge, sedangkan virus writer tidak. Dan terakhir, menulis sebuah virus bukanlah sesuatu yang keren karena bisa dilakukan dengan mudah, bahkan oleh anak SMP yang hanya memiliki sedikit pengetahuan tentang IT.
Entry Filed under: Ensiklopedia. Tags: Ensiklopedia.
8 Comments Add your own
Leave a Comment
Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed
1.
Nazieb | February 27, 2008 at 12:32 pm
Go to hell semuanya para pembuat virus!!!!!
*kerjaan jadi molor gara-gara benerin komputer yang kena virus
2.
humanoidtyphoon | February 27, 2008 at 5:14 pm
wekekek, manteb, :thumbup:
3.
clouseth | February 27, 2008 at 6:12 pm
@Nazieb bener! enyahlah sampah2 dunia maya!
@Darjo apanya yang keren? orangnya? hehe tq
4.
pink | March 2, 2008 at 6:44 am
ternyata bgitu yah? dulunya juga saya pikir hacker itu berpenampilan cupu dan pastinya kerjaannya cuma depan kompie mulu.
5.
nne | March 4, 2008 at 10:01 am
keknya gw pernah baca tulisan sejenis ini dimanaaaa gitu.
go hacker!
6.
clouseth | March 4, 2008 at 2:11 pm
Ya mungkin juga, ini kan gw ngambil sumber dari tulisan orang lain. Tapi ini 100% gak copy paste
7.
ika | March 27, 2008 at 1:49 pm
aku jadi pengen punya pacar hacker,,huehehehe kayaknya gimanaa gitu,,
8.
humanoidtyphoon | April 3, 2008 at 4:31 pm
jing, blog baru luh mane? linknya ke gwa in donks!